Meskipun permainan tradisional memiliki beragam manfaat seperti olah raga, sosialisasi antar teman, menyusun strategi, dan belajar sikap sportif, namun kenyataannya keberadaanya kian terpinggirkan. Posisinya tergantikan oleh beragam alat modern yang cenderung membuat anak menjadi asosial, malas bergerak, dan individualis. Menyadari hal ini para pengajar level 2 SDII Al Abidin berinisiatif untuk mengajak ratusan siswanya mengenal olah raga dan permainan tdalam rangkaian pembukaan tema ketiga yakni “bermain di lingkungan sekitar”, Selasa (15/9) di taman Fakultas Psikologi UMS.

Dengan antusias para peserta mencoba beragam permainan yang telah dipersiapkan diantaranya gobak sodor, betengan, bekelan, bakiak, engklek, benthik, dan kontrakol. Peserta mengakui beberapa permainan, seperti engklek dan bakiak, baru pertama kali mereka mainkan. Sehingga tidak heran jika beberapa peserta mengalami kesulitan bahkan beberapa kali terjatuh, namun itulah kelebihan permainan tradisional yang mengajarkan semangat pantang menyerah. Selain mengajarkan kekompakan dan strategi, ada juga permainan yang mengajarkan keterampilan berhitung yaitu benthik. Dalam permainan ini, peserta yang lemparan kayunya terjauh, maka akan menjadi pemenang. Penentuan jauh dekatnya dihitung menggunakan ukuran kayu.

Meskipun hari makin beranjak siang, namun peserta makin antusias karena, permaian layang-layang telah menanti mereka. Meskipun sempat kesulitan menerbangkan karena anginnya tidak begitu kencang, akan tetapi peserta cukup senang lantaran beberapa layang-layang beraneka bentuk dan warna sempat terbang walaupun tidak begitu lama.